Kamis, 20 Desember 2007

Indahnya Berkorban...!!!

Ini kisah tentang Yu Timah, tetangga kami.

Ia salah seorang penerima program Subsidi Langsung Tunai yang kinisudah berakhir. Empat kali SLT yang diterimanya sebesar Rp 1,2 juta.Yu Timah adalah penerima SLT yang sebenarnya. Rumahnya berlantaitanah,berdinding anyaman bambu, tak punya sumur sendiri.Bahkan tanah yang di tempati gubuknya bukan milik sendiri.
Usia Yu Timah sekitar 50an, kurus & tidak menikah.Barangkali karena tubuhnya yang kurus,sangat miskin, ditambah yatimsejak kecil, maka ia tidak menarik lelaki manapun. Jadilah ia perawan tuahingga kini sebatang kara. Dulu Yu Timah bekerja sebagai PRT di Jakarta. Namun,seiring usianya, tenaganya jadi tidak laku. Ia kembali ke kampung kami.Para tetangga bergotong royong membuatkan gubuk di atas tanah tetanggayang bersedia menampung Yu Timah bersama emaknya yang sangat renta.
Yu Timah ingin mandiri. Maka ia berjualan nasi bungkus. Pembelinyaadalah para santri yang mondok di pesantren kampung kami. Tentu hasilnyatak seberapa. Tapi Yu Timah bertahan. Setelah emaknya meninggal Yu Timahmengasuh seorang kemenakan. Ia biayai anak itu hingga tamat SD. Lalu anak itutersedot arus perdagangan PRT dan terdampar di Jakarta.Sudah 4 tahun terakhir ini Yu Timah kembali hidup sebatang kara
Hebatnya. Semiskin itu Yu Timah masih bisa menabung di BPR syariah di manasaya jadi pengurus. Yu Timah tidak pernah mau datang ke kantor. Katanya,malu sebab ia orang miskin dan buta huruf. Ia menabung Rp 5 rb atau Rp 10 rbtiap bulan. Namun setelah menjadi penerima SLT Yu Timah bisa menabunghingga Rp 250 rb. Dan sejak itu saya melihat Yu Timah memakai cincin emas.Untuk orang seperti Yu Timah, setitik emas di jari adalah persoalanmengangkat harga diri. Saldo terakhir Yu Timah adalah Rp 650 rb.
Kemarin Yu Timah datang ke rumah saya.Ia biasa duduk menjauh bila berhadapan dengan saya. Malah maunya bersimpuh dilantai, namun selalu saya cegah.
''Pak, saya mau mengambil tabungan,''kata Yu Timah dengan suaranya yang kecil.''O, tentu bisa. Tapi ini hari Sabtu.Bank sudah tutup. Bagaimana bila Senin?''''Senin juga tidak apa-apa. Saya tidak tergesa.''''Mau ambil berapa?''''600 rb, Pak.''''Kok banyak sekali. Untuk apa, Yu?''Yu Timah tidak segera menjawab.Menunduk, sambil tersenyum malu-malu.
''Saya mau beli kambing kurban, Pak.Kalau 600 rb saya tambahi dengan uang saya yang di tangan, cukup untuk belikambing.''
Saya tahu Yu Timah amat menunggu tanggapan saya. Bahkan ia mengulangikata-katanya karena saya masih diam.Karena lama tidak memberikan tanggapan,mungkin ia mengira saya tidak akanmemberikan uang tabungannya. Padahal saya lama terdiam karena sangat terkesanoleh keinginannya membeli kambing kurban.
''Iya, Yu. Senin besok uang Yu Timah akan diberikan sebesar 600 rb. Tapi Yu,sebenarnya kamu tidak wajib berkurban.Yu Timah bahkan wajib menerima kurban dari saudara-saudarakita yang lebih berada. Jadi, apakah niat Yu Timah benar-benar sudah bulathendak membeli kambing kurban?''''Iya Pak. Saya sudah bulat. Saya benar-benar ingin berkurban. Selama Inimemang saya hanya jadi penerima. Namun sekarang saya ingin jadi pemberi dagingkurban.''''Baik, Yu. Besok uang kamu akan saya ambilkan di bank kita.''Wajah Yu Timah benderang. Senyumnya ceria. Matanya berbinar. Lalu mintadiri, dan dengan langkah-langkah panjang ia pulang.
Setelah Yu Timah pergi, saya termangu sendiri. Mengapa orang yang sangat awamitu bisa punya keikhlasan demikian tinggi sehingga rela mengurbankan hampirseluruh hartanya?
Ah, Yu Timah, saya jadi malu. Kamu belum naik haji, mungkin tidak akan pernahnaik haji, namun kamu sudah jadi orang yang suka berkurban.Kamu sangat miskin, tapi uangmu tidak kaubelikan makanan, televisi, ataupakaian yang bagus.Uangmu malah kamu belikan kambing kurban. Meski saya dilarang doktermakan daging kambing, tapi kali ini akan saya langgar. Saya ingin menikmatidaging kambingmu yang sepertinya sudah berbau surga. Mudah-mudahan kamumabrur sebelum kamu naik haji

3 komentar:

Anonim mengatakan...

thx bro 4 open up my mind..this is a trully sacrifice..

jujur, abis baca cerita ini gw jadi malu sendiri...bukannya mau sombong..tapi mungkin klo kita hitung2 penghasilan kita sebagai karyawan...mungkin ada diantara kita yg mampu untuk berkorban setiap bulan, 2 bulan sekali, 3 bulan sekali...ataupun minimal setaun sekali...

coba kita hitung biaya consumeable kita setiap bulan..berapakah? 100rb? 200rb? 500rb? 1juta? 2juta? atau bahkan lebih...?
tapi dari semua biaya itu,,sudahkah kita menyisihkan...untuk berkorban di hari yang sangat mulia ini...seperti yg dicontohkan oleh Nabi Ibrahim A.S ?


Thx untuk yu timah yg telah membuka hati dan pikiran kami...surga telah menantimu...semoga kau menjadi Bidadari Surga...AMIN..!!

Anonim mengatakan...

Subhanallah.....

Emang kita perlu diingetin ya..

Ayo..ayo.. yang udah kerja, jangan lupa menyisihkan sebagian gaji di luar yang 2.5 tiap bulan, buat qurban di akhir tahun..

Anonim mengatakan...

Subhanallah.....sebuah pelajaran sarat makna. Di zaman seperti ini masih ada seorang Yu Timah yang rela mengorbankan uangnya. Kalau dipikir2 uang itu jumlahnya besar juga (bagi orang seperti dia), tapi entah apa yang ada dalam hatinya terdalam?!
apakah Yu timah benar2 sudah menemukan makna hidup dan berkurban?!
Mungkin banyak dari kita pikir2 dulu menyisihkan uang untuk hal seperti itu. KAdang lebih memilih beli kebutuhan skunder dari pada memperoleh pahala.
Tak sadar sebenarnya......
PAdahal jika kita niat menabung dari 11 bulan sebelumnya. tak lebih dari 100.000 sebulan. insya ALlah kita bisa kok turut andil dalam pemaknaan idul adha. intinya ini adalah bentuk kecintaannya pada keduniawian berupa uang. Justru itulah uyang harus setiap orang mampu di dunia ini lakukan...!!!
menyembelih kecintaannya pada uang. GAntilah dengan berkah dan ridho dari Allah.
Subhanallah..Semoga Allah memberikan balasan setimpal atas keikhlasan seorang Yu Timah.
Hayo…..siapa menyusul???
Masa Yu Timah Aja bisa, kita kok ga bisaaaaa!!!