cerita pagi ini :
di lamer bunderan senayan yg dari arah blok m mo ke arah sudirman, lagi asik2nya nunggu ijo, tau2 di blakang motor gw (motor ke2 d blakang gw), ada motor jupie mx warna silper geber2 n ngasih kode lampu ke gw. tadinya cuek bebek aje.
begitu lampu dah ijo, gw langsung ngegas motor (soale dah telat ngantor neh...seperti biasa...he3x)..gigi atu melaju ampe 40kpj...trus tau2 tuh jupie mx ngejar gw, masup gigi 2, die masih ngejar juga, nyalip kanan-kiri (keq motoGP..he3x), tau2 dah muncul di samping kiri gw, gw masup lagi gigi 3 di speed 60kpj, langsung tarik gas, betot lagi....eh ntu jupie dah ada lagi di blakang kanan gw, beda tipis doangan. masup lagi gigi 4 di speed 85kpj, trus gw bejek gas ampe 105kpj (ampe boncenger gw pegangan kenceng banget... :cuek: ), die dah lumayan ketinggalan jauh, begitu mo masup gigi 5 keburu ketemu belokan kolong semanggi d..akhirnya gw nurunin gas n ngurangin gigi...apalagi ktmu macet...akhirnya doi bisa nyusul gw dan ada persis d sebelah motor gw...
tau2 dia nengok kanan ke arah gw, n buka kaca helmnya...
"Mas, tadi kuncinya jatoh pas di lamer senayan, ini saya mo ngasih..tapi mas nya jalannya ngebut banget" :shocked:
he3000x...jadi malu ndiri gw, tnyata konci rumah n konci ruangan kantor gw jatoh dari kantong jaket gw....he3000x :spam:
o iya mas, makasih mas....
trus langsung doi melaju lagi, gw cumang bisa ktawa doangan, apalagi boncenger gw, ngakak abis...
ya..itulah sekilas cerita pagi ini..
serius amat bacanya... :cuek:
*paling ga tnyata motor gw bisa ngalahin jupie mx :rofl:
Jumat, 28 Desember 2007
Kamis, 20 Desember 2007
Indahnya Berkorban...!!!
Ini kisah tentang Yu Timah, tetangga kami.
Ia salah seorang penerima program Subsidi Langsung Tunai yang kinisudah berakhir. Empat kali SLT yang diterimanya sebesar Rp 1,2 juta.Yu Timah adalah penerima SLT yang sebenarnya. Rumahnya berlantaitanah,berdinding anyaman bambu, tak punya sumur sendiri.Bahkan tanah yang di tempati gubuknya bukan milik sendiri.
Usia Yu Timah sekitar 50an, kurus & tidak menikah.Barangkali karena tubuhnya yang kurus,sangat miskin, ditambah yatimsejak kecil, maka ia tidak menarik lelaki manapun. Jadilah ia perawan tuahingga kini sebatang kara. Dulu Yu Timah bekerja sebagai PRT di Jakarta. Namun,seiring usianya, tenaganya jadi tidak laku. Ia kembali ke kampung kami.Para tetangga bergotong royong membuatkan gubuk di atas tanah tetanggayang bersedia menampung Yu Timah bersama emaknya yang sangat renta.
Yu Timah ingin mandiri. Maka ia berjualan nasi bungkus. Pembelinyaadalah para santri yang mondok di pesantren kampung kami. Tentu hasilnyatak seberapa. Tapi Yu Timah bertahan. Setelah emaknya meninggal Yu Timahmengasuh seorang kemenakan. Ia biayai anak itu hingga tamat SD. Lalu anak itutersedot arus perdagangan PRT dan terdampar di Jakarta.Sudah 4 tahun terakhir ini Yu Timah kembali hidup sebatang kara
Hebatnya. Semiskin itu Yu Timah masih bisa menabung di BPR syariah di manasaya jadi pengurus. Yu Timah tidak pernah mau datang ke kantor. Katanya,malu sebab ia orang miskin dan buta huruf. Ia menabung Rp 5 rb atau Rp 10 rbtiap bulan. Namun setelah menjadi penerima SLT Yu Timah bisa menabunghingga Rp 250 rb. Dan sejak itu saya melihat Yu Timah memakai cincin emas.Untuk orang seperti Yu Timah, setitik emas di jari adalah persoalanmengangkat harga diri. Saldo terakhir Yu Timah adalah Rp 650 rb.
Kemarin Yu Timah datang ke rumah saya.Ia biasa duduk menjauh bila berhadapan dengan saya. Malah maunya bersimpuh dilantai, namun selalu saya cegah.
''Pak, saya mau mengambil tabungan,''kata Yu Timah dengan suaranya yang kecil.''O, tentu bisa. Tapi ini hari Sabtu.Bank sudah tutup. Bagaimana bila Senin?''''Senin juga tidak apa-apa. Saya tidak tergesa.''''Mau ambil berapa?''''600 rb, Pak.''''Kok banyak sekali. Untuk apa, Yu?''Yu Timah tidak segera menjawab.Menunduk, sambil tersenyum malu-malu.
''Saya mau beli kambing kurban, Pak.Kalau 600 rb saya tambahi dengan uang saya yang di tangan, cukup untuk belikambing.''
Saya tahu Yu Timah amat menunggu tanggapan saya. Bahkan ia mengulangikata-katanya karena saya masih diam.Karena lama tidak memberikan tanggapan,mungkin ia mengira saya tidak akanmemberikan uang tabungannya. Padahal saya lama terdiam karena sangat terkesanoleh keinginannya membeli kambing kurban.
''Iya, Yu. Senin besok uang Yu Timah akan diberikan sebesar 600 rb. Tapi Yu,sebenarnya kamu tidak wajib berkurban.Yu Timah bahkan wajib menerima kurban dari saudara-saudarakita yang lebih berada. Jadi, apakah niat Yu Timah benar-benar sudah bulathendak membeli kambing kurban?''''Iya Pak. Saya sudah bulat. Saya benar-benar ingin berkurban. Selama Inimemang saya hanya jadi penerima. Namun sekarang saya ingin jadi pemberi dagingkurban.''''Baik, Yu. Besok uang kamu akan saya ambilkan di bank kita.''Wajah Yu Timah benderang. Senyumnya ceria. Matanya berbinar. Lalu mintadiri, dan dengan langkah-langkah panjang ia pulang.
Setelah Yu Timah pergi, saya termangu sendiri. Mengapa orang yang sangat awamitu bisa punya keikhlasan demikian tinggi sehingga rela mengurbankan hampirseluruh hartanya?
Ah, Yu Timah, saya jadi malu. Kamu belum naik haji, mungkin tidak akan pernahnaik haji, namun kamu sudah jadi orang yang suka berkurban.Kamu sangat miskin, tapi uangmu tidak kaubelikan makanan, televisi, ataupakaian yang bagus.Uangmu malah kamu belikan kambing kurban. Meski saya dilarang doktermakan daging kambing, tapi kali ini akan saya langgar. Saya ingin menikmatidaging kambingmu yang sepertinya sudah berbau surga. Mudah-mudahan kamumabrur sebelum kamu naik haji
Ia salah seorang penerima program Subsidi Langsung Tunai yang kinisudah berakhir. Empat kali SLT yang diterimanya sebesar Rp 1,2 juta.Yu Timah adalah penerima SLT yang sebenarnya. Rumahnya berlantaitanah,berdinding anyaman bambu, tak punya sumur sendiri.Bahkan tanah yang di tempati gubuknya bukan milik sendiri.
Usia Yu Timah sekitar 50an, kurus & tidak menikah.Barangkali karena tubuhnya yang kurus,sangat miskin, ditambah yatimsejak kecil, maka ia tidak menarik lelaki manapun. Jadilah ia perawan tuahingga kini sebatang kara. Dulu Yu Timah bekerja sebagai PRT di Jakarta. Namun,seiring usianya, tenaganya jadi tidak laku. Ia kembali ke kampung kami.Para tetangga bergotong royong membuatkan gubuk di atas tanah tetanggayang bersedia menampung Yu Timah bersama emaknya yang sangat renta.
Yu Timah ingin mandiri. Maka ia berjualan nasi bungkus. Pembelinyaadalah para santri yang mondok di pesantren kampung kami. Tentu hasilnyatak seberapa. Tapi Yu Timah bertahan. Setelah emaknya meninggal Yu Timahmengasuh seorang kemenakan. Ia biayai anak itu hingga tamat SD. Lalu anak itutersedot arus perdagangan PRT dan terdampar di Jakarta.Sudah 4 tahun terakhir ini Yu Timah kembali hidup sebatang kara
Hebatnya. Semiskin itu Yu Timah masih bisa menabung di BPR syariah di manasaya jadi pengurus. Yu Timah tidak pernah mau datang ke kantor. Katanya,malu sebab ia orang miskin dan buta huruf. Ia menabung Rp 5 rb atau Rp 10 rbtiap bulan. Namun setelah menjadi penerima SLT Yu Timah bisa menabunghingga Rp 250 rb. Dan sejak itu saya melihat Yu Timah memakai cincin emas.Untuk orang seperti Yu Timah, setitik emas di jari adalah persoalanmengangkat harga diri. Saldo terakhir Yu Timah adalah Rp 650 rb.
Kemarin Yu Timah datang ke rumah saya.Ia biasa duduk menjauh bila berhadapan dengan saya. Malah maunya bersimpuh dilantai, namun selalu saya cegah.
''Pak, saya mau mengambil tabungan,''kata Yu Timah dengan suaranya yang kecil.''O, tentu bisa. Tapi ini hari Sabtu.Bank sudah tutup. Bagaimana bila Senin?''''Senin juga tidak apa-apa. Saya tidak tergesa.''''Mau ambil berapa?''''600 rb, Pak.''''Kok banyak sekali. Untuk apa, Yu?''Yu Timah tidak segera menjawab.Menunduk, sambil tersenyum malu-malu.
''Saya mau beli kambing kurban, Pak.Kalau 600 rb saya tambahi dengan uang saya yang di tangan, cukup untuk belikambing.''
Saya tahu Yu Timah amat menunggu tanggapan saya. Bahkan ia mengulangikata-katanya karena saya masih diam.Karena lama tidak memberikan tanggapan,mungkin ia mengira saya tidak akanmemberikan uang tabungannya. Padahal saya lama terdiam karena sangat terkesanoleh keinginannya membeli kambing kurban.
''Iya, Yu. Senin besok uang Yu Timah akan diberikan sebesar 600 rb. Tapi Yu,sebenarnya kamu tidak wajib berkurban.Yu Timah bahkan wajib menerima kurban dari saudara-saudarakita yang lebih berada. Jadi, apakah niat Yu Timah benar-benar sudah bulathendak membeli kambing kurban?''''Iya Pak. Saya sudah bulat. Saya benar-benar ingin berkurban. Selama Inimemang saya hanya jadi penerima. Namun sekarang saya ingin jadi pemberi dagingkurban.''''Baik, Yu. Besok uang kamu akan saya ambilkan di bank kita.''Wajah Yu Timah benderang. Senyumnya ceria. Matanya berbinar. Lalu mintadiri, dan dengan langkah-langkah panjang ia pulang.
Setelah Yu Timah pergi, saya termangu sendiri. Mengapa orang yang sangat awamitu bisa punya keikhlasan demikian tinggi sehingga rela mengurbankan hampirseluruh hartanya?
Ah, Yu Timah, saya jadi malu. Kamu belum naik haji, mungkin tidak akan pernahnaik haji, namun kamu sudah jadi orang yang suka berkurban.Kamu sangat miskin, tapi uangmu tidak kaubelikan makanan, televisi, ataupakaian yang bagus.Uangmu malah kamu belikan kambing kurban. Meski saya dilarang doktermakan daging kambing, tapi kali ini akan saya langgar. Saya ingin menikmatidaging kambingmu yang sepertinya sudah berbau surga. Mudah-mudahan kamumabrur sebelum kamu naik haji
Langganan:
Postingan (Atom)
